Warna-warni Hidupku: Sol Sepatu

Sepatuku sayang sepatuku malang

Dua hari ini hujan melulu… Firasatku buruk… Hari ini, pagiku dimulai dengan full adrenalin.

Bagaimana tidak…? Saat hidup kembali pukul 8.03, aku baru sadar bahwa kemeja untuk kerja hari ini belum disetrika, belum mandi, belum makan, sedangkan aku hanya punya tiga kemeja yang akan cukup untuk seminggu dengan syarat setelah dipakai pada hari sebelumnya harus segera dicuci lagi… dan coba tebak… Ya, aku belum mencucinya… Bravo!

Plus, HPku belum dicas. Kenapa masalah HP ini menjadi begitu penting? Siemens MC60-ku itu chargernya udah diambang kematian, kabel-kabelnya sudah mulai putus. Kerusakannya berarti beli baru, beli baru berarti uang, dan status keuanganku untuk bulan ini tidaklah mengesankan. Percayalah!

“Jika sang HP tidak sempat dicas di kos, sepertinya harus dicas di kantor”, pikirku. Maka charger malang itu kubawa ke kantor yang harus ditempuh dengan penuh perjuangan. O iya…aku lupa bilang bahwa aku udah kerja. Apa dan dimanakah itu?? Aku cuma bisa bilang… Alhamdulillah aku dibayar untuk hal-hal yang aku senangi. Fiuhh…!!

Keluar dari kos… hujan semakin lebat. Tubuh kurusku yang dibalut dengan jacket gunung warisan kakek itu terus kedinginan. Seperti biasa, hari ini aku berencana naik kereta.Namun untuk ke stasiun aku harus naik bus kampus. Dan jarak dari kost-an ku yang tenggelam di tengah-tengah belantara hutan UI ke halte tempat penantian bis kuning kampus bisa diumpamakan seperti sebuah rute marathon sendiri.

Penantian lewatnya bis kuning pun merupakan sebuah ujian kesabaran. Waktu semakin sedikit, sedangkan bis-bis manja itu belum datang juga. Jika engkau naik kereta, setiap detik akan terasa begitu berharga. Kenapa? Karena dalam setiap detik yang terbuang itu, bisa saja lewat satu KRL di stasiun. Dan kapan KRL berikutnya akan lewat, hanya Tuhan Yang Maha Tahu yang tahu. Tapi… Alhamdulillah, akhirnya dengan ‘sedikit‘ berlari, aku berhasil mengejar sebuah bis yang udah siap-siap ‘kabur’.

Tantangan berikutnya ialah kereta. Ya… kereta!! KRL ekonomi pagi yang terkenal dengan ‘kebrutalannya’ itu lhoo… Jika hidupmu cukup membosankan, cobalah naik KRL pada jam segitu. Dijamin, akan menjadi pengalaman unik tersendiri. Gencet sana, dorong sini… pegang sana, raba sini…Seru!! 😀

Masih tetap hujan… gerimis…turun dari kereta di stasiun Tebet, angkot 44 siaga menanti. Siap dihadang oleh ciri khas klasik Jakarta berikutnya… Macet!!! Dan ketika stok kesabaranku sudah mulai habis, akhirya aku sampai di Kuningan jam 9.27. Ingat HP yang belum dicas, akupun mengeluarkan charger yang ternyata tanpa kusadari sudah menemui ajalnya… termutilasi menjadi dua. Pengeluaran beberapa puluh ribu rupiah pun berkelebat di kepalaku. Dulu harganya sih 25rb,entah sekarang…

Hari-hari kantor kulalui seperti biasa… Sebagai anak baru, aku hanya disuruh belajar dan baca buku sampai nantinya siap diceburkan ke pekerjaan sebenarnya. Siang hari… (akhirnya) aku makan juga. Makan gado-gado… Aku shalat,dan menyempatkan diri untuk tidur beberapa menit di masjid. Asharnya shalat lagi, lalu minum Milo yang dicampur dengan susu kental manis yang diseduh dengan air panas. Ahh.. Ni’matnya! Lumayan untuk mengobati kedinginanku yang ternyata sudah semakin parah… diperparah dengan AC kantor yang tak kenal ampun. Mungkin saking dinginnya, tak kan ada api yang bisa bertahan lama di ruangan itu. Akhirnya kuseduh satu cangkir lagi Energen jahe. Tubuhku bertahan…

Pukul 6.00 sore bel psikologisku berbunyi. “Saatnya pulang”, pikirku.

Liftnya macet!!! Perjalanan dari lantai enambelas ke lantai satu itu pun ku tempuh dengan senang hati sambil jalan kaki. Diluar masih hujan dan tak banyak berbeda dengan tadi pagi. Aku kembali menaiki angkot 44 yang masih berteman dengan kemacetannya, membeli karcis kereta 1500 rupiah, dan menunggu. Menunggu… menunggu….. menunggu….… dan terus menunggu… Ada sekitar sepiuluh kali, kereta ke Jakarta melintasi stasiun itu. Tapi hampir tak ada yang arah sebaliknya , hampir tidak ada yang ke Depok. Sementara calon penumpang semakin menumpuk.

Bosan menunggu… Aku teringat charger yang harus dibeli. Peron basah itu kutelusuri… menemukan barang yang dimaksud… dan tanpa ditawar ternyata harganya 15 ribu rupiah. Tanpa pikir panjang charger itupun segera menjadi menjadi milikku. O.. yeah, aku senang, lebih murah dari yang kukira.

Setelah hampir sejam… kereta yang ditunggu-tunggu orang se-stasiun itu pun datang. Inilah fenomena yang sangat ditakuti oleh setiap KRL-ers: Terlambatnya Sang Kereta!! Bayangkan bagaimana keinginan dan keinginan untuk naik saling berbenturan. Egoisme demi egoisme beradu.

Korban pun berjatuhan. Banyak orang yang tidak bisa naik, ada juga yang tidak bisa naik, tapi maksa… aku contohnya. Alhamdulillah aku berhasil mereservasi sebuah tempat dekat pintu sambil berpeluk-pelukan dengan penumpang lainnya……. Hangat…!

Saat kereta memasuki stasiun berikutnya, yang dipenuhi dengan calon penumpang yang jiwanya sudah berada di rumah mereka masing-masing, bencana itupun dimulai. Mereka mendesak, mereka menjerit, mereka berteriak… ada yang menyerah dan banyak yang kecewa…

Hari masih tetap hujan… aku pulang ke kos dengan telanjang kaki sambil menenteng sepatu kerjaku yang memang sudah usang, yang kubeli seken dari seorang teman seharga 25 ribu rupiah…

Sol-nya sudah tidak ada… Lepas diinjak-injak di atas kereta… dan sekarang entah dimana.

– -oo–

Ada beberapa hikmah yang kuambil dari peristiwa hari ini:

  • Tabunglah kesabaran. Jika aku mau bersabar untuk menunggu kereta berikutnya yang kemungkinan besar kosong, mungkin sang sepatu tidak akan termutilasi. Dan jika aku mau bersabar untuk tidak memakai HP untuk hari ini(ini sih, kayaknya ga mungkin:)), mungkin charger itu pun masih utuh. Sekarang aku harus beli charger…memikirkan sepatu untuk esok hari… dan bagaimana hidup untuk satu bulan ke depan.
  • Sadarilah bahwa roda itu selalu berputar. Dalam hidup ini selalu ada hal yang menyenangkan dan ada yang tidak. Kita tidak akan selalu di atas… dan juga tidak mungkin selalu di bawah. Kita mau terima atau tidak, semua ada masanya(seperti sepatuku). Jika suatu saat kita dapat kesenangan, sadarilah bahwa disaat yang lain kita juga akan diberi cobaan, apapun bentuknya. Dalam kasusku sekilas sepertinya aku menderita dan menyesal. Tidak…… jika dilihat dari sudut pandang lain bahwa aku juga pernah mendapat hari yang cerah, bis kuning yang tepat waktu, perjalanan yang lancar, lift yang bersahabat, dan kereta yang serasa milik sendiri bahkan pada saat-saat yang biasanya tidak mungkin akan kosong. Semuanya seperti dimudahkan! Dengan semua kesenangan yang kuterima aku merasa tidak adil rasanya kalau aku marah saat diberi ketidaknyamanan sedikit saja. Dengan menyadari hal ini, tidak akan ada musibah yang terasa terlalu besar bagi kita.

Well, anyway… In this shitty life, stuff like that is nothing new. Welcome to my life, fellas! 😀

Iklan

1 Response to “Warna-warni Hidupku: Sol Sepatu”


  1. 1 whinda sabri Januari 15, 2009 pukul 3:43 pm

    wah, Ian… Kisahnya inspiring sekali. Ayo Yan… tetap semangat…

    Anggap saja sepatu dan casan HP itu sebagai investasi awal Ian untuk meraih sukses!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




WELCOME TO MY PLACE!
Selamat datang di tempat saya. Mudah-mudahan Anda bisa menemukan apa yang Anda cari (walau ga da papa disini). Jika Anda tidak terlalu sibuk, tolong tinggalkan "sesuatu" (baca: comment). Soal isi, maaf baru dikit. Saya lagi belajar ngutak-atik WP ini

RianLendar

Januari 2009
S S R K J S M
« Okt   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

PostLendars teratas

Jml tamu sampai saat ini :

  • 35,039 tamu
RELATIONS :










%d blogger menyukai ini: